INFONews.id | Surabaya - Ini cerita yang digambarkan pada relief Candi Sukuh, mengungkapkan kisah Sudamala. Bermula ketika Bathara Guru, Dewa Siwa yang sakit parah, sehingga dia minta kepada Dewi Uma untuk mencarikan obat. Obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya itu adalah Susu Lembu Hitam. Karena cintanya terhadap sang suami, Dewi Uma segera pergi mencari air susu yang dimaksud, dengan harapan suaminya cepat sembuh.
Setelah mencari ke mana-mana, tetapi air susu lembu hitam itu tidak ketemu. Dalam keputusasaannya, Dewi Uma bertemu seorang penggembala lembu hitam. Dengan mengemis-ngemis, Dewi Uma mohon sang penggembala memberikan susu lembu hitam tersebut. Tetapi sang penggembala ngotot tidak mau menyerahkan air susu lembu, kecuali Dewi Uma menyerahkan tubuhnya kepadanya.
Dewi Uma berada dalam dilema, tidak mau melayani suami tercinta mati, bila mau melayani berarti suami hidup, akan tetapi dirinya ternoda. Dengan pengorbanan diri, akhirnya susu lembu hitam dapat diberikan dan diminumkan kepada Bathara Guru sehingga dia sembuh dari penyakitnya.
Setelah Bathara Guru Sehat
Dia menyampaikan bahwa yang menjadi penggembala adalah Bathara Guru sendiri, dan Bathari Uma yang menggunakan ‘mind’ telah melupakan nurani sehingga telah berselingkuh dan diminta melakukan ‘laku’ di dunia menjadi Bathari Durga yang berwujud sangat menyeramkan. Bathari Durga bertugas memangsa manusia yang tersesat dalam menggunakan ‘mind’ yang berada dalam wilayahnya.
Setelah dua belas tahun menjalankan ‘laku’ apabila telah kembali hati nuraninya, maka dia berhak kembali ke Kahyangan.
Ada penjelasan tentang ‘mind’ yang menarik dalam buku ‘BODHIDHARMA Kata Awal adalah Kata Akhir’, karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Ada yang senang anjing, ada yang menganggapnya binatang menjijikkan. Anjing sama “seolah” menciptakan dua sensasi berbeda. Kita harus melakukan sedikit penelitian. Siapa yang merasakan perbedaan itu? Jelas, kita sendiri. Perbedaan itu terjadi karena apa? Karena ‘mind-set’ kita. Ada ‘mind’ penyayang anjing, ada pula ‘mind’ pembenci anjing. Ada yang membenci anjing dan menyayangi kucing. ‘Mind’ itu pula yang kemudian menciptakan sensasi sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Tahap kedua, kita meneliti ‘mind’. ‘Mind’ bukanlah sesuatu yang nyata. ‘Mind’ hanyalah sebuah ilusi; ada tapi tidak ada; tidak ada tapi ada. Tak ada, tapi terasa ada. Terasa ada, tapi tidak ada. ‘Mind’ ibarat perangkat lunak komputer. Ia tidak bisa berfungsi sendiri. Harus ada perangkat keras agar dia bisa berfungsi. Otak adalah perangkat keras yang dibutuhkannya.
Kemudian, selama kita masih mempunyai otak, perangkat itu dapat di ‘over write’ – dapat dirancang kembali, dapat diubah total, hingga sama sekali berbeda dengan aslinya. Ini yang disebut proses ‘deconditioning dan re-creating mind’. Isi ‘mind’ bukanlah harga mati. Kita bisa mengubahnya. ‘Mind’ itu sendiri tak lebih dari sebuah ilusi. Di atas apa yang tertulis, kita dapat menulis ulang apa saja. ‘Mind’ itu ‘rewritable’.
Demikian, dengan melakukan penelitian, pembedahan dan analisis, kita dapat memasuki alam meditasi. Itulah yang disebut Jalur Pengetahuan. Dengan melampaui dualitas yang tercipta oleh ilusi, kita memasuki alam meditasi; belum menjadi meditatif. Kita baru memahami kesatuan sebagai konsep. Masih ada yang memahami, ada yang dipahami, dan ada pemahaman itu sendiri. Ruwatan adalah proses ‘deconditioning and re-creating mind’.
Membutuhkan waktu lama dalam menganalisis ‘mind’ sehingga leluhur kita menggambarkan setelah Bathari Durga bertapa di hutan belantara selama dua belas tahun baru dapat diruwat dan kembali ke jatidirinya. Pada hakikatnya, semua manusia telah diusir ke hutan belantara dunia, karena telah menggunakan ‘mind’-nya sebagai penguasa.
Mereka yang telah sadar bahwa jatidirinya yang seharusnya memimpin dan ‘mind’-nya digunakan sebagai alat, mereka telah kembali suci. Ruwatan sendiri hanya dapat dilakukan di dunia, selagi mempunyai otak yang dapat di-‘overwrite’.
Ruwatan di dunia ini pada hakikatnya adalah untuk mengembalikan jati diri sebagai penguasa hidup manusia. Semar selalu menjadi Guru Pamomong manusia. Dengan mengikuti petunjuknya manusia cepat menyadari jati dirinya. "Terima kasih Semar. Terima Kasih Guru, Putera Sang Kegelapan".
Mendapatkan pengalaman pahit di Mercapada itu, Dewi Uma menanggung malu yang luar biasa. Dia sangat cemas jangan-jangan hasil hubungannya yang mengesampingkan nurani itu membawa akibat, akhirnya kandungan Dewi Uma, Kama Bang dan Kama Putih itu digugurkan dan dibuang ke laut.
Dewa Baruna sebagai penguasa laut tidak mau menerima Kama Bang dan Kama Putih tersebut, lalu dilempar kembali ke darat. Peristiwa ini dilihat oleh Bathara Gana, Putera Bathara Guru yang kemudian memelihara Kama Bang dan Putih yang berbentuk raksasa ini sampai besar.
Bersama dengan Kuasa Pencipta, Dewa Brahma, kemudian raksasa ini diberi nama Sang Kala Raja. Ketika sudah mulai dewasa, Sang Kala Raja ingin mengetahui jati dirinya, dan menanyakan kepada Bathara Gana tentang asal-usul orang tuanya.
Setelah mengetahui orang tuanya, Sang Kala Raja menghadap Bathara Guru dan mendapat restu untuk melaksanakan tugasnya, memakan manusia yang terkena ‘Sukerta’, manusia yang kena jerat ‘mind’. Dengan menggunakan ‘mind’ seseorang merasa ada lahir dan akan mati, manusia terjebak dalam waktu, dalam jerat Sang Kala.
Dalam buku LIFE WORKBOOK, Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya, karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 dijelaskan tentang kala, waktu.
Manusia dan Makhluk Lain Terjerat Waktu
Manusia harus tunduk pada waktu. Waktu adalah kontinuitas. Tidak ada garis jelas yang memisahkan masa lalu dari masa kini, dan masa kini dari masa depan. Untuk menyikapinya, manusia perlu selalu mengingat nasihat pujangga besar India yang pernah menjabat sebagai presiden, Prof. S. Radhakrishnan: “Belajarlah dari masa lalu tanpa penyesalan".
Masa lalu sudah berlalu, mau disesali pun percuma. Buatlah rencana untuk masa depan tanpa kekhawatiran. Jangan Gelisah; jangan pula ngebet, seolah kita sedang berpacu dengan waktu, karena kita hidup dalam waktu. Hidup dan berkaryalah dalam masa kini dengan penuh kesadaran. Kita tidak dapat berkarya dalam masa lalu yang sudah berlalu, atau pun dalam masa depan yang belum datang. Kita harus berkarya dalam masa kini.
Saat ini adalah saat kita untuk berkarya, untuk hidup dan menghidupi. Gunakanlah saat ini dengan sebaik-baiknya! ”Ketika manusia hidup dalam kekinian setiap saat, dia sudah melampaui waktu. Semestinya manusia tidak terpengaruh luaran, “periphere”.
Dunia, “periphere” ini adalah bayangan, semacam film yang terpampang di layar kehidupan. Manusia terlalu terpengaruh bayangan, bereaksi terhadap adegan film di layar, padahal layar hanyalah proyeksi dari film di proyektor.
Semestinya manusia tidak menempatkan dirinya di bayangan, manusia mendekatkan diri pada proyektornya, pada jatidirinya. Kalau penonton wayang bisa menangis dan tertawa dan terobsesi dengan permainan wayang, manusia perlu mendekat pada dhalangnya.
Manusia harus berhati-hati menghadapi Bathara Kala, menghadapi waktu, semua makhluk dikalahkan oleh waktu, kecuali mereka yang telah melampaui waktu. Boleh dibilang Bathara Kala adalah sang “waktu” yang bisa menelan “rembulan” dan “matahari”, hati dan pikiran yang terang. Satu-satunya cara untuk terlepas dari cengkeraman Bathara Kala adalah dengan proses penyadaran, yaitu pencerahan hati dan pikiran.
Tradisi leluhur pada waktu gerhana matahari dan gerhana bulan memukul kentongan dan lesung beramai-ramai, ayam-ayam dan ternak yang tidur dibangunkan, wanita-wanita hamil harus mandi adalah simbol bahwa kesadaran spiritual harus dibangkitkan, jiwa dan badan harus dibersihkan, agar “rembulan” dan “matahari”, hati dan pikiran terang tidak ditelan oleh keserakahan Bathara Kala yang selalu menerkam sepanjang masa.
Kentongan dan pemukul serta lesung dengan alu pemukul sendiri merupakan simbol lingga dan yoni, simbol feminin dan maskulin. Pada dasarnya alat musik gamelan selalu menggunakan kantong udara dan pemukul, misalnya kendang, gong, gambang, sitar dan lain-lainnya yang merupakan simbol feminin dan maskulin.
Ruwat Sudamala, Ruwat Tanpa Dalang
Cerita ini diambil dari serat kuno Kitab Kidung Sudamala. Sebuah kitab sakral, yang dipercaya berguna menghilangkan sengkala. Perasaan apes dan sial yang menerpa seseorang.
Kitab ini lahir di era Kerajaan Majapahit (1293 M). Nuansa Hindu masih kental, Hindu Jawa yang beda dengan Hindu India sebagai sumbernya.
Di kitab ini awal tokoh Semar tertulis. Sosoknya masih hanya sebatas batur, belum mempresentasikan diri sebagai jatidiri manusia Jawa.
Kitab ini sering disebut sebagai serat ruwat. Tulisan untuk pembebasan. Membebaskan diri dari kungkungan perasaan merasa sial. Perasaan tidak beruntung. Dan perasaan dijauhi keberkahan.
Dalam budaya Jawa, batin-batin seperti itu perlu diruwat. Diberi pencerahan, agar tidak merasa seperti katak dalam tempurung. Dunianya sempit. Gelap gulita. Tanpa penerang dalam memandang zaman ke depan.
Ruwatan itu lazimnya adalah dengan mengundang dalang wayang kulit. Dia dibayar untuk mempagelarkan kisah murwakala. Kisah pembebasan yang berfungsi sebagai penyucian diri.
Dalam lakon itu dikisahkan kelahiran Bathara Kala yang secara konotatif adalah nafsu angkara, dengan konsekuensi logis meminta tumbal. Dan ruwatan adalah solusi menghindari agar tumbal itu tidak menimpa seseorang.
Siapakah yang harus di Ruwat?
Dalam Babad Ila-ila, sumber dari segala kejadian yang harus diruwat itu ternyata ratusan. Selain kelahiran dan jumlah saudara se-ibu-bapak yang ‘diwajibkan’ diruwat, juga banyak peristiwa keseharian perlu 'dibersihkan'.
Cara pembersihannya bisa dilakukan melalui dua cara. Pertama nanggap wayang dengan lakon murwakala. Sedang kedua dengan membaca atau mendengarkan pembacaan Serat Ruwat Sudamala.
Sejarawan Belanda, CC Berg, membenarkan itu. Dalam penelitiannya menyebut, ada dua bentuk penyucian diri yang dilakukan oleh orang Jawa.
Pertama, melalui pagelaran wayang dengan cerita Bethara Kala. Dan kedua, melalui pembacaan kitab kuno serat Sudamala. Serat ini diyakini berfungsi untuk meruwat pembaca dan pendengarnya. Berkah dan bala itu memang takdir dari Yang Maha Kuasa. Tapi sepanjang nyawa masih menyatu dengan raga, wajib hukumnya terus melakukan ikhtiar.
Tulisan ini bertujuan untuk itu, tentu bagi yang percaya. Tulisan ini tak melulu sebagai pelipur lara. Sebab siratan makna dalam tulisan ini mengandung itu. Melakukan ruwatan massal melalui cerita. Ini diambil dari tafsir Djoko Su’ud Sukahar terhadap serat kuno Kitab Kidung Sudamala itu dalam bukunya ‘Satrio Piningit’ yang diterbitkan Penerbit Narasi, Jogyakarta.
Kisah kitab ruwat ini simple. Perjalanan Raden Sadewa membebaskan Bethari Durga yang sedang terkena kutukan. Benarkah membaca kitab ini berefek untuk itu? (aaw)
Editor : Tudji Martudji