Bedah Buku Memperingati Hari Sumpah Pemuda di Aula Gedung Bakesbangpol Jatim

Belajar Dari Kudatuli, Menemukan Kembali Jalannya Revolusi 

Reporter : Tudji Martudji
Bedah Buku dan Diskusi, memperingati Hari Sumpah Pemuda (IN/PHOTO: TUDJI)

SURABAYA, INFONews.ID - Memperingati Hari Sumpah Pemuda tahun 2026, digelar Bedah Buku dan Diskusi yang dikemas ala 'Cangkrukan'. Mengurai kajian sejarah, ekonomi, politik, dan gerakan demokrasi di Indonesia. Mereka, utamanya para narasumber yang merupakan aktivis 89, era pergerakan mengkritisi pemerintahan kala itu. 

Dibeberkan, semangat perjuangan bergerak bersama mengkritisi pemerintah. Juga fakta dan kenyataan yang pernah mereka dialami, penderitaan. Mereka berbicara kondisi negara, pemerintah, konflik politik dan perjuangan demokrasi di akhir kekusaan Pemerintahan Orde Baru. Sarat berbagai kejadian dialami, disebutkan pasca peristiwa Kudatuli yang meletus di Jakarta. Di Surabaya, mereka menyebut perjuangan dan perlawanannya sarat resiko, mereka menyebut dengan 'Nyanyian Bawah Tanah'. Acara itu digelar di Aula Gedung Bakesbangpol Jawa Timur di Surabaya, Rabu 28 Oktober 2026. 

Mereka yang tampil Dr. Sugeng Puji Leksoni, M.Si Dekan Fisip Universitas Wijaya Kusuma Surabaya bertindak sebagai penanggap. Dr. (Cand, ) Tino Rahardian, S.A.P., M.A.P., CGRCOP, Kepala MP2MD ITB Visi Nusantara Bogor, juga Trio Marpaung dan Syani aktivis kampus 98 dari Surabaya yang keduanya juga penulis buku berjudul 'Nyanyian Bawah Tanah'. Hadir sebagai tuan rumah Agus mewakili Kepala Bakesbangpol Jatim Eddy Supriyanto, serta undangan peserta diskusi berbagai elemen mahasiswa dan elemen pemuda pemudi. 

"Nyanyian Bawah Tanah (di judul buku) adalah saksi hidup perjuangan aktivis SMID/PRD menghadapi represif Orde Baru. Melalui bedah buku ini, mari kita mendengarkan suara-suara yang pernah untuk dihilangkan," kata Trio Marpaung. 

Trio menceritakan, paska peristiwa Kudatuli aktivis di Surabaya dikejar, ditangkap dan diperiksa oleh aparat. Tak ayal, pengakuan pemuda itu juga menerima siksaan. 

"Orang yang memeriksa saya mengambil kursi, plastik di kaki kursi diambil, kemudian tangan saya diinjak di kaki kursi itu," ujar Trio, menceritakan salah satu kisah yang dialami.

Trio mencoba melihat fakta hari ini, apa yang tengah terjadi dan apa yang dilakukan pemuda, atau mahasiswa saat ini. Itu, kemudian berlanjut dengan sesi tanya jawab.

Syani, didepan peserta kemudian mengurai betapa kuatnya jiwa, semangat dan pikiran mereka kala itu berjuang untuk mewujudkan perubahan. Menukil kalimatnya, dia yang keturunan China, saat ini mengaku gembira perjuangan panjang di eranya kini membuahkan hasil, meski tidak semua dirasakan berubah. 

"Minimal, saat ini saya tidak lagi mendengar atau mengalami bullian, seperti yang dulu pernah saya rasakan. Dengan sebutan hei, China hei, sipit, itu tidak lagi," ungkapnya. 

Dia yang dulu saat menjadi aktivis mahasiwi di jaman pemerintahan Orde Baru juga tak luput dari tindakan represif aparat pemerintah. Dia mengaku ditangkap, disekap dan mengalami penyiksaan seiring dilakukan interograsi kepadanya.

"Saya, pun juga Trio pastinya tidak tahu apa yang dilakukan kepada saya. Saya pun tidak tahu (penyiksaan) apa yang dialami rekan Trio. Ngeri lah, saat itu, saya ditempeleng, hidung disentil, telinga disentil dan lainnya, pasti Trio tidak tahu," kata Syani, menceritakan kisahnya saat itu. 

Diakhir, buku tulisan Trio dan Syani mendapat sambutan utamanya peserta untuk bisa membaca langsung buku tersebut. 

"Saya suka, pastinya saya akan membaca buku ini, karena langsung dari sumbernya. Penulisnya adalah pelaku sejarah yang memang turun langsung di era sembilan delapan itu. Dan, banyak hal pastinya yang bisa saya dapat dan saya pelajari," kata seorang peserta, ditemui usai acara. (*)

Editor : Tudji Martudji

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru