Jumat, 20 Feb 2026 14:45 WIB

Pecah Rekor MURI, 2.400 Anak di 27 Kota Skrining Jantung Serentak

PERKI memperkuat deteksi dini melalui inisiatif skrining PJB di Solo, Jawa Tengah. INPhoto/Philips
PERKI memperkuat deteksi dini melalui inisiatif skrining PJB di Solo, Jawa Tengah. INPhoto/Philips

JAKARTA, iNFONews.ID – Ribuan anak di 27 kota dari Aceh hingga Jayapura mendapatkan pemeriksaan jantung gratis dalam sebuah inisiatif berskala nasional. 

Langkah masif ini berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai deteksi dini penyakit jantung bawaan (PJB) secara serentak dengan peserta anak terbanyak.

Program yang berlangsung sejak 24 Januari hingga 14 Februari 2026 ini menyasar lebih dari 2.400 siswa sekolah dasar. 

Inisiatif tersebut lahir dari kolaborasi Kelompok Kerja Kardiologi Pediatrik dan PJB Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) bersama Philips Indonesia.

Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan PJB PERKI, dr. Oktavia Lilyasari, Sp.JP(K), menjelaskan bahwa pemeriksaan ekokardiografi ini bertujuan memetakan data nasional sekaligus menjaring kasus PJB pada anak di bawah usia 18 tahun.

"Kami ingin memastikan kasus PJB terdeteksi sejak awal agar segera mendapat tindak lanjut medis. Program ini adalah ikhtiar kita bersama untuk menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia," ujar dr. Oktavia di Jakarta.

Keberhasilan menjangkau puluhan kota dalam waktu singkat tak lepas dari peran teknologi ultrasound portabel. 

Philips menerjunkan sistem ultrasound handheld yang memungkinkan pemeriksaan medis berkualitas tinggi dilakukan langsung di lingkungan sekolah, bukan hanya di rumah sakit besar.

Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti, menyatakan kebanggaannya atas kontribusi teknologi ini dalam membantu para dokter memperluas jangkauan deteksi dini.

"Kami bersyukur solusi ultrasound kami bisa memberikan dampak nyata bagi kesehatan jantung anak-anak di pelosok negeri. Kolaborasi ini sejalan dengan misi kami mendorong akses layanan kesehatan yang merata dan berkualitas di seluruh wilayah Indonesia," ungkap Astri.

Selain perangkat medis, Philips juga mengerahkan spesialis klinis untuk mendampingi tenaga medis di lapangan. 

Dukungan ini memastikan proses pengambilan gambar jantung (akuisisi data) berjalan akurat meski dilakukan di lokasi non-permanen seperti ruang kelas.

Langkah ini menjadi bagian dari komitmen lebih luas dalam memperkuat jaringan rujukan kesehatan nasional. 

Sebelumnya, Philips telah menjalin kerja sama multi-tahun dengan Kementerian Kesehatan melalui program Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network (SIHREN).

Kemitraan tersebut mencakup penyediaan sistem terapi terpandu pencitraan di 38 provinsi, serta upaya peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melalui produksi lokal sistem ultrasonografi dan pemantauan pasien.

Melalui aksi skrining massal ini, sektor publik dan swasta membuktikan bahwa hambatan geografis Indonesia bisa diatasi dengan mobilitas teknologi. 

Deteksi dini kini bukan lagi kemewahan bagi warga kota besar, melainkan hak yang mulai menjangkau anak-anak di seluruh penjuru nusantara.

Editor : Alim Kusuma