Jumat, 20 Feb 2026 13:08 WIB

Tren Menginap 2026, Wisatawan Indonesia Lebih Suka Pesan Hotel Dadakan

Wisatawan lokal kuasai 48% pemesanan hotel di Indonesia. Tingkat pembatalan terendah di dunia dengan tren pemesanan makin singkat. INPhoto/SiteMinder’s
Wisatawan lokal kuasai 48% pemesanan hotel di Indonesia. Tingkat pembatalan terendah di dunia dengan tren pemesanan makin singkat. INPhoto/SiteMinder’s

JAKARTA, iNFONews.ID – Peta kekuatan industri perhotelan di Indonesia mengalami pergeseran signifikan. Data terbaru SiteMinder’s Hotel Booking Trends mengungkapkan bahwa wisatawan domestik kini menjadi motor utama pemulihan sektor pariwisata, dengan porsi kunjungan yang hampir mengimbangi tamu internasional.

Sepanjang tahun 2025, pangsa tamu lokal yang menginap di hotel-hotel tanah air menyentuh angka 48%. Angka ini melonjak 5,6 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan minat wisata domestik tertinggi kedua di dunia, tepat di bawah Kanada. Sebaliknya, dominasi tamu mancanegara sedikit menyusut dari 57% menjadi 52%.

Fenomena ini sejalan dengan catatan pertumbuhan perjalanan domestik yang melesat 19�lam setahun terakhir. 

Menariknya, karakter wisatawan lokal membawa angin segar bagi operasional hotel: tingkat pembatalan pemesanan turun drastis ke angka 11,38%, yang merupakan rekor terendah secara global.

"Menurunnya pembatalan dan durasi tinggal yang lebih singkat menunjukkan semangat warga kita untuk menjelajahi negeri sendiri. Ini peluang bagi hotel untuk lebih kreatif merancang paket lokal yang unik," ujar Fifin Prapmasari, Country Manager SiteMinder Indonesia.

Laporan tersebut juga memotret perubahan perilaku pemesanan yang semakin singkat. Rata-rata waktu pemesanan (lead time) berkurang menjadi hanya 19 hari sebelum menginap, jauh lebih cepat dibanding rata-rata global yang mencapai 32 hari. Mayoritas tamu (80%) pun kini lebih memilih durasi menginap singkat atau overnight stay.

Kondisi ini dibarengi dengan penyesuaian tarif kamar rata-rata yang turun 9,38% menjadi Rp1.884.476. Penurunan harga ini dinilai sebagai langkah strategis hotel untuk tetap kompetitif di mata wisatawan lokal yang semakin cerdas mencari nilai tambah.

Meski Juli dan Agustus tetap menjadi primadona, distribusi kunjungan kini lebih merata. Lonjakan signifikan justru terlihat pada Januari 2025 dengan kenaikan porsi pemesanan hingga 15%. 

Faktor pendorongnya adalah periode libur Tahun Baru yang panjang dan perayaan Imlek yang jatuh lebih awal.

"Hotel tidak bisa lagi memakai pendekatan statis. Mereka harus responsif terhadap lonjakan permintaan yang datang lebih awal dari perkiraan, seperti yang kita lihat di awal tahun lalu," tambah Fifin.

Dalam daftar 12 sumber pendapatan hotel terbesar, platform "anak bangsa" seperti Traveloka dan Tiket.com berhasil mempertahankan posisi kuat. Hal ini membuktikan bahwa narasi perjalanan lokal sangat dipengaruhi oleh ekosistem digital dalam negeri.

Sementara itu, Booking.com, Expedia, dan Agoda tetap memimpin pasar, disusul Trip.com di posisi keenam yang terus meroket seiring pulihnya arus wisatawan asal Tiongkok. 

Pertumbuhan ini menjadi sinyal kuat bagi pemilik properti untuk menyeimbangkan strategi pemasaran antara platform global dan kanal distribusi lokal guna memaksimalkan pendapatan di tahun 2026.

Editor : Alim Kusuma