Kamis, 05 Feb 2026 05:15 WIB

Konferensi Arek Suroboyo 2025, Saat Identitas Kota Miliki Jiwa Nusantara

Konferensi Arek Suroboyo bertajuk "Jiwa Arek, Nafas Kita", Sabtu (27/12/2025). INPhoto/Eric
Konferensi Arek Suroboyo bertajuk "Jiwa Arek, Nafas Kita", Sabtu (27/12/2025). INPhoto/Eric

SURABAYA, iNFONews.ID – Identitas "Arek Suroboyo" kini tak lagi terbelenggu oleh urusan administratif semata. Dalam pertemuan hangat di Gedung Merah Putih, Kompleks Balai Pemuda, puluhan anak muda dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul untuk mendefinisikan ulang ruh Kota Pahlawan melalui Konferensi Arek Suroboyo bertajuk "Jiwa Arek, Nafas Kita", Sabtu (27/12/2025).

Inisiatif yang dimotori Youthgeist Community Forum ini mempertemukan pemuda asal Sumatera, Bali, hingga Kalimantan. Mereka duduk melingkar, meleburkan perbedaan suku untuk mencari satu titik temu: apa artinya menjadi bagian dari Surabaya di masa depan?

Selama ini, stigma bahwa Arek Suroboyo hanya milik mereka yang memegang KTP setempat masih melekat kuat. Namun, konferensi ini dengan tegas mematahkan pandangan sempit tersebut dan menggantinya dengan perspektif yang lebih inklusif.

Ketua Karang Taruna Surabaya, Febryan Kiswanto, menyatakan bahwa esensi "Arek" sebenarnya terletak pada pengabdian, bukan sekadar garis keturunan. Surabaya merupakan rumah bagi siapa saja yang bersedia berkeringat demi kemajuan kota ini.

"Arek Suroboyo bukan semata-mata mereka yang lahir di sini. Siapa pun yang berkontribusi, peduli, dan memberikan dampak positif bagi kota ini, dialah Arek Suroboyo sejati," ujar Febryan di hadapan peserta.

Ia meyakini bahwa mereka yang hidup, bekerja, menjalin tegur sapa, hingga merasakan denyut nadi interaksi sosial di Surabaya secara otomatis menjadi bagian dari napas kota. Nilai-nilai ini melampaui batas suku dan asal-usul daerah.

Diskusi ini tidak sekadar menjadi ajang kumpul-kumpul tanpa isi. Sejumlah pakar seperti Suko Widodo, Airlangga Pribadi Kusman, hingga Pradipto Niwamdhono turut membedah identitas ini dari kacamata sejarah, hukum, dan komunikasi politik agar para pemuda memiliki landasan berpikir yang kokoh.

Suryan Muthofa, selaku Ketua Pelaksana, menjelaskan bahwa pelibatan akademisi bertujuan untuk memperkuat nilai Pancasila di tengah keragaman. Ruang temu ini dirancang agar pemuda tidak kehilangan arah dalam memaknai jati diri mereka sebagai penggerak perubahan di Surabaya.

"Kami menyediakan ruang untuk lintas latar belakang. Tujuannya jelas, yakni memperkuat persatuan pemuda dan merawat nilai-nilai toleransi di tengah keberagaman yang ada," kata Ryan.

Pertemuan yang dihadiri oleh Karang Taruna, Cak & Ning, serta berbagai komunitas lokal ini dipungkiri dengan tradisi potong tumpeng. Simbol ini menjadi penanda kuat akan sifat egaliter dan solidaritas tanpa sekat yang menjadi fondasi utama masyarakat Surabaya sejak dulu hingga hari ini.

Editor : Alim Kusuma