Jumat, 06 Feb 2026 04:42 WIB

Pasar Keramat Mojokerto, Dari Timbunan Sampah Jadi Ruang Edukasi dan Gerakan Pelestarian Bumi

Pasar Keramat Mojokerto, timbunan sampah jadi ruang edukasi (IN/PHOTO: Ainaya Nurfadila)
Pasar Keramat Mojokerto, timbunan sampah jadi ruang edukasi (IN/PHOTO: Ainaya Nurfadila)

MOJOKERTO, INFONews.ID — Sebuah inisiatif unik muncul dari Dusun Keramat, Desa Warugung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Melalui semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan, masyarakat setempat berhasil mengubah bekas tempat pembuangan sampah menjadi ruang publik bernama Pasar Keramat, sebuah pusat kegiatan sosial, budaya, dan ekologi yang mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal.

Kisah inspiratif ini terungkap dalam podcast bertema Gerakan Satu Bumi yang dipandu oleh Yuning bersama sejumlah narasumber, di antaranya Cak Sahlan dari Yayasan Lestari, Cak Budi, Cak Anam, serta Mas Amin Aminudin dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta.

 

Menurut Cak Sahlan, gerakan ini berawal dari keresahan terhadap praktik budaya yang hanya muncul pada momen-momen tertentu, seperti peringatan 17 Agustus atau bulan Suro. Ia bersama rekan-rekannya berupaya menghidupkan kembali budaya lokal agar menjadi bagian dari keseharian masyarakat. 

 

“Kami ingin lokalitas tetap terjaga dan masyarakat berdaulat secara berkeadilan,” ujarnya.

 

Di Pasar Keramat, masyarakat mempraktikkan konsep pelestarian lingkungan dengan pendekatan sosial dan budaya. Tidak ada penggunaan plastik, dan terdapat lebih dari 138 menu lokal tanpa bahan pengawet atau MSG, sebagai bentuk ketahanan dan kedaulatan pangan. Bahkan, sebagian hasil penjualan pasar disisihkan untuk zakat, dan bagi warga yang hafal kitab suci diperbolehkan makan gratis — mencerminkan nilai keadilan dan spiritualitas yang dijunjung tinggi.

 

Peran perempuan juga menjadi sorotan utama. Menurut Cak Sahlan, perempuan memiliki peran penting dalam gerakan ini karena keseharian mereka erat dengan aktivitas rumah tangga yang menghasilkan sampah. 

 

“Ketika perempuan diberi ruang untuk berkarya dan dihormati, mereka justru bergerak lebih cepat daripada laki-laki,” tuturnya.

 

Sementara itu, Mas Amin Aminudin dari BNPB mengaku mendapat banyak pelajaran dari kunjungannya ke Pasar Keramat. 

 

“Kami datang untuk memberi edukasi, tapi justru mendapat edukasi baru. Ini praktik baik yang bisa direplikasi di daerah lain,” ungkapnya.

 

Gerakan Pasar Keramat membuktikan bahwa menjaga bumi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aktivis lingkungan, tetapi tugas bersama seluruh manusia. Melalui budaya, gotong royong, dan kesadaran ekologis, masyarakat Dusun Keramat berhasil menjadikan ruang kecil di desanya sebagai simbol harmoni antara manusia dan alam. (ainaya nurfadila/red)

Editor : Tudji Martudji