Senin, 09 Feb 2026 18:13 WIB

Ponpes Muhammadiyah Tak Gegabah Buka Proses Belajar Tatap Muka

Suwandi DS (Foto: IN/Daru)
Suwandi DS (Foto: IN/Daru)

INFONews.id | Yogyakarta - Pondok Pesantren (ponpes) dibawah Perserikatan Muhammadiyah tidak akan terburu-buru membuka ponpes selama kasus COVID-19 masih terjadi di Indonesia khususnya Kabupaten Bantul.

Ketua Badan Pembina Harian Ponpes Asy-Syifa, Suwandi DS mengatakan Muhammadiyah pada prinsipnya akan mengikuti kebijakan dari pemerintah terkait pembukaan aktivitas pendidikan di ponpes namun demikian juga akan mempertimbangkan masukan dari Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCC).

"Jadi kita satu komando, tidak bisa membuka sendiri-sendiri kegiatan pondok pesantren baik di Bantul maupun diseluruh Indonesia," ungkap Suwandi DS disela-sela peninjauan Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Pemkab Bantul terkait kesiapan pembukaan ponpes di Pondok Pesantren Asy-Syifa, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Selasa (7/7/2020).

Kehati-hatian akan menjadi pertimbangan pokok dari ponpes dibawah Perserikatan Muhammadiyah untuk membuka kembali kegiatan aktivitas belajar di ponpes meski saat ini memasuki new normal karena new normal justru kondisi penularan COVID-19 semakin masif seperti yang terjadi di Jawa Timur.

"Kita ingin memastikan keselamatan para santri, lingkungan santri dan seluruh masyarakat karena jika terjadi ledakan penularan COVID-19 dari ponpes belum tentu rumah sakit semuanya siap dan memiliki ruang perawatan," ujarnya.

Diakui Suwandi semenjak awal Maret proses belajar mengajar di Ponpes Asy-Syifa sudah berhenti dan dilanjutkan dengan belajar dengan sistem daring sampai saat ini bahkan sampai batas waktu yang belum ditentukan karena tidak memungkinkan melakukan pembelajaran secara tatap muka.

"Kita satu komando dengan dalam pembukaan aktivitas belajar mengajar. Namun kapan pembukaan kita belum tahu. Yang jelas sampai COVID-19 berakhir di Indonesia karena musuh kita tidak kelihatan," tandasnya.

Sementara Bupati Bantul Suharsono sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Infeksi COVID-19 Kabupaten Bantul mengatakan meninjau Ponpes Asy-Syifa sudah melakukan peninjauan kesiapan pembukaan proses belajar mengajar di ponpes lain dan ternyata santri yang mondok tidak saja berasal dari Yogyakarta namun juga berasal dari luar Jawa bahkan ada yang dari Aceh.

"Yang dari Jawa Timur juga banyak. Nah khusus yang Jawa Timur harus dipastikan santri yang akan kembali ke ponpes mengantongi surat sehat karena saat ini Jawa Timur menjadi sentra penularan COVID-19 terbanyak diseluruh Indonesia," ujarnya.

"Para santri yang datang dari luar kota juga diwajibkan untuk menjalani isolasi selama 14 hari," kata dia.

Pensiunan perwira menengah Polda Banten ini juga akan memfasilitasi rapid test bagi santri yang datang dari luar kota dengan mengajukan permintaan rapid test kepada Dinas Kesehatan Bantul.

"Ya silahkan mengajukan rapid test kepada Dinas Kesehatan karena untuk pengadaan rapid test menggunakan anggaran dari Pemkab Bantul dan harus ada pertanggungjawabannya," terangnya. (*)

Editor : Redaksi