Saham AS Tertokenisasi Bikin Heboh, Pembeli di PINTU Melonjak Hampir 70 Persen

infonews.id
PT Pintu Kemana Saja (PINTU), mencatat lonjakan jumlah pembeli aset tertokenisasi (IN/PHOTO: LELY)

JAKARTA, INFONews.ID – Minat investor Indonesia terhadap saham dan ETF Amerika Serikat yang ditokenisasi terus meningkat tajam. Platform investasi kripto berizin OJK, PT Pintu Kemana Saja (PINTU), mencatat lonjakan jumlah pembeli aset tertokenisasi tersebut sebesar 68 persen secara kuartalan (quarter-on-quarter) pada kuartal III-2026 dibanding kuartal sebelumnya.

Pertumbuhan ini diikuti kenaikan jumlah trader aktif sebesar 64 persen, jumlah transaksi 55 persen, dan volume perdagangan 51 persen. Empat aset mencatat lonjakan pembeli paling signifikan: Nvidia (NVDAX) naik 224 persen, Apple (AAPLX) 212 persen, Alphabet (GOOGLX) 131 persen, dan Robinhood (HOODX) 118 persen. Dari sisi volume, Meta (METAX) bahkan melonjak lebih dari 230 persen.

“Kuartal III-2026 menunjukkan positifnya perdagangan aset tertokenisasi di platform PINTU. Pertumbuhan ini menandakan pengguna semakin aktif mengikuti perkembangan perusahaan teknologi global dan memperluas pilihan aset untuk membangun portofolio,” kata Presiden Direktur PINTU, Andy Putra.

Selain saham teknologi, minat diversifikasi juga terlihat. Jumlah pembeli SPDR Gold ETF naik lebih dari 170 persen. “Kami melihat pengguna mulai memanfaatkan aset tertokenisasi tidak hanya untuk mengikuti tren saham teknologi, tetapi juga untuk diversifikasi, termasuk eksposur terhadap emas,” tambah Andy.

Sejak 2025, PINTU menyediakan aset tertokenisasi. Hingga Oktober 2026, platform ini telah menawarkan lebih dari 100 aset yang mencakup saham AS, ETF, dan komoditas, dengan nilai transaksi minimal mulai dari Rp11.000. Baru-baru ini, PINTU menambah 10 aset baru dari Ondo: sembilan ETF (termasuk pasar Jepang, Korea Selatan, India, komoditas, dan US Treasury bills tenor 0–3 bulan) serta saham Micron (MUon). Transaksi aset baru ini dimulai dari Rp65.000. MUon bisa diperdagangkan 24/7, sementara sembilan ETF lainnya 24/5.

Menurut Andy, saham dan ETF tertokenisasi memberi eksposur terhadap pergerakan harga aset dasarnya. Pengguna dapat membelinya secara fraksional menggunakan rupiah tanpa perlu membuka rekening di perusahaan efek luar negeri. Waktu transaksi yang lebih panjang dibanding jam bursa reguler AS juga memberi kelonggaran bagi investor di zona waktu Indonesia. Pajak finalnya kompetitif, hanya 0,21 persen.

Secara global, kapitalisasi pasar aset dunia nyata yang ditokenisasi (real world assets/RWA) mencapai 39,26 miliar dolar AS atau sekitar Rp708,64 triliun per 20 Oktober 2026, menurut data RWA.xyz.

“Aset tertokenisasi membuka akses lebih luas bagi investor ritel terhadap instrumen yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun setiap aset memiliki karakteristik dan risiko berbeda. Investor perlu melakukan riset menyeluruh, memahami profil risiko, serta menyesuaikan dengan tujuan investasi agar dapat berinvestasi secara bijak,” tutup Andy. (Lel/red)

Editor : Tudji Martudji

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru