Konsisten Edukasi Pilah dan Olah Sampah, Kampung Edukasi Sampah Jadi Lokus Verifikasi Adipura 2026

Reporter : Edy
Kampung Edukasi Sampah di RT 23 RW 07, Kelurahan Sekardangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kembali mendapat perhatian untuk verifikasi Program Adipura 2026 (IN/PHOTO: EDY)

SIDOARJO, INFONews.ID – Konsistensi hampir satu dekade dalam membangun budaya pilah dan olah sampah mengantarkan Kampung Edukasi Sampah di RT 23 RW 07, Kelurahan Sekardangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kembali mendapat perhatian dalam verifikasi Program Adipura 2026. Kawasan yang mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini menjadi salah satu lokasi (locus) verifikasi Adipura di Kabupaten Sidoarjo, dengan Bank Sampah Telulikur sebagai salah satu praktik unggulannya.

Verifikasi lapangan berlangsung pada Sabtu (17/10/2026) sore. Tim Verifikator Adipura meninjau langsung aktivitas pengelolaan sampah dengan didampingi perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo, Kelurahan Sekardangan, pengurus RW, serta kader lingkungan.

Bagi warga, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda penilaian, melainkan kesempatan untuk menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dapat tumbuh dari partisipasi masyarakat, kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah, dan pengelolaan fasilitas secara konsisten.

Ketua RT 23 RW 07 Sekardangan, Andi Hariyadi, mengatakan bahwa keterlibatan aktif warga menjadi kunci dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus memastikan pengelolaan sampah berjalan secara berkelanjutan.

“Kami bersama warga bahu-membahu menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mengoptimalkan operasional Bank Sampah Telulikur yang digerakkan oleh para kader,” ujar Andi.

Salah satu pilar pengelolaan sampah di kawasan ini adalah Bank Sampah Telulikur yang melayani penyetoran sampah anorganik bernilai ekonomis, seperti botol plastik dan kardus. Kegiatan penimbangan dan penyetoran dilaksanakan secara berkala setiap dua pekan sekali, tepatnya pada Sabtu pagi.

Direktur Bank Sampah Telulikur, Puji Rahayu, menjelaskan bahwa pengelolaan administrasi dilakukan secara digital untuk meningkatkan transparansi dan memudahkan pencatatan setoran nasabah.

Partisipasi masyarakat juga semakin meluas. Nasabah bank sampah tidak hanya berasal dari RT 23, tetapi telah menjangkau warga RT 21, RT 22, dan RT 24 di lingkungan RW 07 Kelurahan Sekardangan.

Meluasnya partisipasi tersebut memperlihatkan bahwa bank sampah bukan sekadar tempat mengumpulkan sampah anorganik, melainkan sarana membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah rumah tangga sekaligus memperkuat gotong royong antarwarga.

Kader Lingkungan Kampung Edukasi Sampah, Hariyanto, mengungkapkan bahwa warga telah membangun kebiasaan memilah sampah rumah tangga selama hampir 10 tahun. Konsistensi tersebut juga berkembang menjadi kegiatan edukasi lingkungan yang menerima sekitar 3.000 pengunjung setiap tahun.

Menurut Hariyanto, pengelolaan sampah dilakukan berdasarkan jenis dan karakteristiknya. Sampah organik diolah menggunakan berbagai metode, seperti komposter Takakura dan komposter aerob, serta didukung pemanfaatan lubang biopori dan sumur resapan. Sementara itu, sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomis disalurkan melalui Bank Sampah Telulikur.

“Selama hampir 10 tahun, kami terus membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah tangga. Sampah organik kami olah melalui komposter Takakura, komposter aerob, dan berbagai metode lainnya. Sementara sampah anorganik yang bernilai ekonomis kami salurkan ke bank sampah,” jelas Hariyanto.

Praktik tersebut menjadi bagian dari pendekatan Kampung Edukasi Sampah dalam memperkenalkan pengelolaan lingkungan yang dapat diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman yang dibagikan kepada ribuan pengunjung setiap tahun diharapkan dapat mendorong semakin banyak masyarakat untuk memulai pengurangan sampah dari rumah masing-masing.

Dalam peninjauan lapangan, Tim Verifikator Adipura diajak melihat sejumlah titik pemilahan dan pengolahan sampah. Kader Lingkungan Kampung Edukasi Sampah, Retno Mulyo, turut menjelaskan program penataan lingkungan dan berbagai inovasi yang dikembangkan, termasuk sistem administrasi Bank Sampah Telulikur.

Menurut Retno, salah satu pengembangan yang dilakukan adalah penerapan administrasi paperless atau minim penggunaan kertas. Pencatatan setoran nasabah dilakukan secara daring sehingga informasi administrasi dapat diakses secara terbuka oleh nasabah sesuai dengan sistem yang diterapkan.

“Melalui pencatatan digital, kami berupaya membuat administrasi bank sampah lebih praktis dan transparan. Nasabah juga dapat mengakses informasi setoran melalui sistem daring yang kami gunakan,” jelas Retno.

Digitalisasi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat tata kelola bank sampah berbasis masyarakat. Dengan administrasi yang lebih tertata, kegiatan pengelolaan sampah diharapkan semakin mudah dipantau dan dikembangkan.

Selain pemilahan dan pengolahan sampah, Kampung Edukasi Sampah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung lingkungan, antara lain Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), panel surya (solar cell), mesin pencacah plastik, serta mesin pencacah daun dan ranting untuk mendukung pembuatan kompos.

Keberadaan fasilitas tersebut memperkuat pendekatan pengelolaan lingkungan yang menghubungkan pengurangan sampah, pemanfaatan material yang masih bernilai, pengolahan sampah organik, pengelolaan air limbah, dan pemanfaatan energi ramah lingkungan.

Berbagai fasilitas itu juga menjadi sarana pembelajaran bagi pengunjung untuk memahami bahwa pengelolaan lingkungan membutuhkan kombinasi antara teknologi tepat guna, partisipasi warga, dan perubahan perilaku.

Lurah Sekardangan, Wahyu Eko Prasetyo mengapresiasi keterlibatan masyarakat serta pelaksanaan verifikasi Adipura di wilayahnya, khususnya di Bank Sampah Telulikur.

“Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Tim Verifikator Adipura, khususnya di Bank Sampah Telulikur. Semoga ikhtiar bersama ini membuahkan hasil terbaik dan warga tetap konsisten menjaga kebersihan lingkungan,” tuturnya.

Keterlibatan Kampung Edukasi Sampah dalam verifikasi Adipura 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi warga dan menjaga keberlanjutan praktik pengelolaan lingkungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Pengalaman di Sekardangan menunjukkan bahwa perubahan lingkungan tidak selalu harus dimulai dari program besar. Kebiasaan memilah sampah, mengolah sampah organik, menyetorkan sampah anorganik, dan menjaga fasilitas lingkungan dapat menjadi fondasi penting bagi terciptanya kawasan permukiman yang lebih bersih dan sehat.

Lebih dari sekadar kesiapan menghadapi penilaian, nilai utama Kampung Edukasi Sampah terletak pada upaya menjadikan pengelolaan sampah sebagai budaya bersama. Melalui praktik nyata dan edukasi yang berkelanjutan, gerakan dari tingkat RT ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak masyarakat untuk mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan sampah dari sumbernya yaitu rumah tangga. (*)

Editor : Tudji Martudji

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru