Tri Prakoso: Budaya Baca untuk Analisis Geoekonomi hingga Geopolitik

Literasi Jadi Fondasi Kader GMNI Baca Perubahan Zaman

Reporter : Tudji Martudji
Sekolah Kader digelar oleh GMNI Cabang Surabaya (IN/PHOTO: TUDJI)

SURABAYA, INFONews.ID - Di gelaran Sekolah Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Surabaya, Tri Prakoso menegaskan keberpihakan terhadap rakyat tidak cukup hanya dilandasi semangat perjuangan. Kader juga harus mampu membaca zaman, memahami berbagai pemikiran, serta menganalisis perubahan sosial, ekonomi, strategi, dan politik yang terus berkembang. Literasi, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam proses tersebut.

 

Di Sekolah Kader yang digelar GMNI Cabang Surabaya di Suite Hotel Surabaya, Senin (7/9/2026) tersebut, Tri Prakoso menekankan pentingnya budaya membaca agar kader mampu memahami fenomena secara mendalam, khususnya soal geoekonomi, geostrategi, dan geopolitik. Rendahnya literasi, katanya, melemahkan kemampuan analisis. Tanpa kebiasaan membaca dan mengenal gagasan di balik suatu pemikiran, seseorang kesulitan memahami kebijakan maupun tindakan para pemimpin dunia.

 

“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi kemampuan membaca realitas,” ujarnya. 

 

Seorang kader tidak cukup hanya tahu bahwa suatu kebijakan telah dibuat. Ia perlu memahami pemikiran di baliknya, kepentingan yang menyertainya, serta konteks sosial, ekonomi, dan politik yang melahirkannya.

 

Tri menjelaskan, memahami pemikiran seseorang akan lebih mudah jika kita mengenal bahan bacaan dan gagasan yang membentuk cara berpikirnya. Membaca buku, menurut Tri Prakoso, bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan bagian dari proses membangun ketajaman berpikir.

 

Dalam konteks kaderisasi GMNI, hal ini semakin krusial. Kader yang berpihak kepada rakyat harus mampu menerjemahkan keberpihakannya melalui pengetahuan dan analisis yang kuat. Idealisme tanpa pengetahuan berisiko menjadi slogan, sementara pengetahuan tanpa keberpihakan dapat kehilangan arah perjuangan. Kader membutuhkan keduanya: ketajaman berpikir dan keteguhan berpihak.

 

Membaca pemikiran tokoh-tokoh dunia, memahami teori ekonomi, mengenali sejarah pemikiran politik, serta mengikuti perkembangan ekonomi global menjadi bagian dari upaya membangun perspektif. Pemikiran tokoh seperti Adam Smith, misalnya, perlu dipelajari tidak hanya untuk mengetahui gagasannya, tetapi juga untuk memahami pengaruhnya terhadap perkembangan masyarakat dan sistem ekonomi.

 

Di dunia yang semakin kompleks, kader tidak boleh hanya membaca permukaan. Ia harus mampu membaca hubungan antarperistiwa. Perubahan ekonomi suatu negara dapat memengaruhi politik, keputusan politik dapat memengaruhi strategi, dan perubahan strategi dapat berdampak pada kehidupan masyarakat. Di sinilah literasi menjadi alat perjuangan intelektual.

 

Kaderisasi, lanjut Tri Prakoso, tidak semestinya hanya menghasilkan kader yang fasih berbicara di forum. Yang dibutuhkan adalah kader yang mampu berpikir sebelum berbicara, membaca sebelum menyimpulkan, serta menguji pendapat sebelum mempercayainya. Budaya membaca perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kader. Membaca bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga untuk melatih keberanian mempertanyakan, melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, dan menyadari bahwa tidak semua persoalan memiliki jawaban sederhana.

 

Ia juga menyampaikan adanya ruang pembelajaran dan pelatihan yang dapat dimanfaatkan kader, termasuk pengetahuan mengenai investasi, saham, dan dunia ekonomi. Pengetahuan itu penting agar kader tidak hanya memahami persoalan dari sisi politik, tetapi juga memahami mekanisme ekonomi yang memengaruhi kehidupan masyarakat.

Pada akhirnya, sekolah kader bukan sekadar tempat menerima materi, melainkan ruang untuk membentuk cara berpikir. Kader yang baik bukanlah yang merasa paling tahu, melainkan yang menyadari bahwa pengetahuan harus terus dicari, diuji, dan diperbarui.

 

“Zaman terus berubah. Persoalan rakyat terus berkembang. Konstelasi politik dan ekonomi global terus bergerak. Maka cara berpikir kader pun tidak boleh berhenti,” tegasnya.

 

Tri Prakoso menutup dengan menekankan bahwa membaca adalah cara kader mengenali dunia, menganalisis adalah cara memahami dunia, dan keberpihakan adalah cara menentukan untuk apa pengetahuan itu digunakan. Literasi tidak boleh ditempatkan sebagai kegiatan tambahan dalam kaderisasi GMNI. Literasi harus menjadi bagian dari napas kaderisasi itu sendiri.

 

Sebab, kader yang hendak memperjuangkan perubahan harus terlebih dahulu memiliki kemampuan memahami perubahan yang sedang terjadi. Membaca tidak lagi sekadar membuka halaman buku. Membaca menjadi latihan kesadaran: membaca sejarah, membaca manusia, membaca kekuasaan, membaca ekonomi, membaca perubahan zaman, dan pada akhirnya membaca posisi diri sendiri di tengah perjuangan.

 

Perjuangan yang besar membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Tetapi juga membutuhkan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan untuk berpikir. (*)

Editor : Tudji Martudji

Photo
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru