PASURUAN, INFONews.ID — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Selasa (20/10/2026), malam. Ia menekankan keselamatan petugas dan relawan sebagai prioritas utama, sekaligus memastikan pasokan air bersih bagi warga tetap terpenuhi.
Begitu tiba di lokasi, Gubernur Khofifah memimpin Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla di posko Hutan Cempaka, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Ia mengingatkan bahwa setiap upaya pemadaman harus mempertimbangkan kondisi medan, arah angin, perkembangan api, dan keamanan personel.
“Tentu yang harus kita lakukan sekarang adalah kewaspadaan dan kehati-hatian para relawan,” ujarnya usai rakor.
Peringatan itu disampaikan setelah tragedi serupa di kawasan Gunung Bromo menelan korban. Lima relawan meninggal dunia dan satu orang masih dirawat di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Tim Dinas Sosial dan BPBD Jawa Timur telah bertakziah ke keluarga korban. Biaya perawatan korban yang masih dirawat ditanggung penuh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Kita semua berduka. Ada enam relawan terdampak, lima di antaranya meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Per hari ini Dinas Sosial dan BPBD Jatim sudah bertakziah ke lima rumah duka,” katanya.
Menurut Gubernur, angin kencang menjadi faktor utama yang menyulitkan mitigasi di Bromo. Medan pegunungan yang terjal dan akses terbatas menuntut koordinasi lebih ketat antar-tim, termasuk Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, kepala desa, camat, TNI, dan Polri.
Data Dinas Kehutanan Jawa Timur mencatat 493 personel gabungan—terdiri atas Polisi Kehutanan, Manggala Agni, BPBD, Polri, penyuluh kehutanan, MPA, relawan, dan masyarakat setempat—terlibat dalam operasi pemadaman pada 13–19 Oktober 2026 di wilayah Pasuruan, Mojokerto, Malang, dan Kota Batu. Hingga hari ini, masih terdeteksi 92 hotspot di area Tahura R. Soerjo.
Gubernur mengapresiasi dedikasi seluruh petugas dan menegaskan pentingnya dukungan logistik, peralatan, layanan kesehatan, serta pengaturan waktu istirahat agar operasi berlangsung aman dan efektif.
Dampak pada Sumber Air dan Langkah Pemulihan
Kebakaran juga merusak jaringan air bersih masyarakat. Total 10.260 meter pipa terdampak di tiga desa penyangga: 4.000 meter di Desa Tambaksari, 3.750 meter di Desa Jatiarjo, dan 2.510 meter di Desa Dayurejo. Pemerintah Kabupaten Pasuruan telah memetakan titik kerusakan dan akan melakukan pengeboran sumur.
“Intinya, pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat semaksimal mungkin kita ikhtiarkan. Jangka pendeknya dropping air bersih, jangka panjangnya sumur atau penarikan air dari sumber yang ada melalui pipa,” jelas Gubernur Khofifah.
Ia juga menekankan perlindungan vegetasi di sekitar mata air dan daerah tangkapan air. Tahura Raden Soerjo, yang luasnya 27.868,30 hektare dan mencakup enam kabupaten/kota serta 57 desa penyangga, berperan strategis sebagai kawasan penyangga keanekaragaman hayati, penyimpan karbon, dan sumber daya air Jawa Timur.
Permohonan Heli dan Ajakan Salat Istisqa
Gubernur menyampaikan pihaknya telah mengajukan bantuan helikopter untuk water bombing, yang dinilai lebih efektif. Ia juga mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar spiritual melalui salat istisqa’.
Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Nomor 400.8.1/37860/011.2/2026 tentang Pelaksanaan Salat Istisqa’ ditetapkan di Surabaya pada 20 Oktober 2026. Surat tersebut ditujukan kepada bupati/wali kota se-Jawa Timur, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, dan pondok pesantren. Hingga awal Oktober 2026, 25 kabupaten/kota telah menetapkan status kedaruratan kekeringan.
“Kemarin-kemarin sifatnya seruan lisan, tapi hari ini saya menandatangani surat edaran agar salat istisqa’ diselenggarakan secara lebih masif. Mohon kepada Allah untuk menurunkan hujan yang bermanfaat dan membawa rahmat,” ujarnya.
Pelaksanaan salat istisqa’ diharapkan melibatkan Forkopimda, ulama, tokoh agama, organisasi Islam, takmir masjid, pesantren, ASN, dan seluruh lapisan masyarakat, disesuaikan dengan kearifan lokal masing-masing daerah. Masyarakat juga diajak memperbanyak istigfar, sedekah, dan doa, sekaligus menghemat penggunaan air.
BMKG memprediksi hujan baru akan turun pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Karena itu, mitigasi residual tetap menjadi prioritas.
“Yang kita perjuangkan adalah keselamatan manusia dan keberlanjutan kehidupan. Petugas harus terlindungi, warga harus aman, dan sumber air harus tetap terjaga. Inilah tanggung jawab bersama yang harus kita jalankan dengan gotong royong,” pungkas Gubernur Khofifah.
Rapat koordinasi dimoderatori Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur dan dihadiri Bupati Pasuruan, Kapolres Pasuruan, Kepala Divre Perum Perhutani Jawa Timur, Kepala Balai Penegakan Hukum Kehutanan wilayah Jawa–Bali–Nusa Tenggara, serta jajaran terkait lainnya. (*)
Editor : Tudji Martudji