Jumat, 09 Okt 2026 20:28 WIB

Bangkit dari Banjir, Pertamina EP Rantau Pengeboran 5 Sumur Migas Baru

Pertamina EP Rantau mulai tajak 5 sumur baru di Aceh Tamiang usai banjir besar. Produksi minyak kini stabil di angka 1.700 barel per hari. INPhoto/Pertamina
Pertamina EP Rantau mulai tajak 5 sumur baru di Aceh Tamiang usai banjir besar. Produksi minyak kini stabil di angka 1.700 barel per hari. INPhoto/Pertamina

ACEH TAMIANG - Pertamina EP Rantau Field tancap gas memulihkan sekaligus meningkatkan produksi minyak dan gas bumi nasional pascabencana banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang. 

Meski proses pemulihan fasilitas operasional masih berjalan, unit bisnis PT Pertamina Hulu Rokan Zona 1 ini resmi memulai pengeboran (well spud) di lima sumur baru.

Langkah agresif ini membuahkan hasil nyata. Setelah merampungkan program pemulihan secara bertahap dan menyelesaikan tiga sumur bor baru, angka produksi minyak bumi di lapangan Rantau kini kembali stabil pada kisaran 1.700 barel per hari (barrel oil per day/BOPD).

Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, menjelaskan bahwa pemulihan berkelanjutan memungkinkan perusahaan mengembalikan performa produksi ke titik awal hanya dalam tempo empat bulan. Capaian ini jauh lebih cepat dari perkiraan awal yang diprediksi memakan waktu satu hingga tiga tahun.

"Kendati masih dalam situasi pemulihan pascabanjir, kami terus melakukan pengeboran untuk menemukan cadangan migas baru sekaligus mempertahankan ritme produksi. Pengeboran lima sumur baru ini sangat krusial untuk menjaga pasokan energi nasional," kata Tomi.

Pengeboran lima sumur tersebut tersebar di dua lokasi utama di Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Sumur RNT DZ-51 dan RNT DZ-52 berlokasi di Desa Tanjung Seumantoh, dikerjakan menggunakan Rig APS-752 berkapasitas 550 HP. Kedalaman akhir masing-masing sumur mencapai 1.145 MMD dan 1.037 MMD.

Sementara itu, tiga sumur lainnya—yaitu RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33—berada di Desa Paya Meta. Sumur RNT DZ-11 telah ditajak memakai Rig TMMJ-12 berkapasitas 550 HP hingga kedalaman 1.132 MMD, sedangkan dua sumur pendampingnya saat ini sedang dalam proses pengerjaan.

Keberhasilan tajak di lima titik ini tak lepas dari penerapan empat fase pemulihan terstruktur pascabanjir: emergency, reactivation, recovery, hingga sustainability. 

Pada tahap awal, tim berfokus memenuhi kebutuhan mendasar perkerja dan fasilitas penunjang seperti air bersih, kesehatan, serta kelistrikan sebelum mereaktivasi sumur-sumur produksi.

Tomi menceritakan, musibah banjir setinggi lebih dari empat meter pada akhir tahun lalu sempat melumpuhkan seluruh kegiatan operasional. Kerusakan berat pada High Pressure Compressor Station (HPCS) membuat pasokan gas untuk pembangkit listrik terputus total, yang berdampak pada matinya pompa air bersih dan terhentinya produksi minyak.

Guna mengatasi kebuntuan tersebut, tim engineer lapangan melakukan inovasi dengan memodifikasi Stasiun Pengumpul (SP)-5. Fasilitas ini sukses mengambil alih peran HPCS sebagai penyuplai gas pembangkit. Kini, pasokan listrik disokong kolaborasi dari SP-5 dan SP-1.

"Ada hikmah di balik ujian ini. Kami berhasil melakukan simplifikasi fasilitas. Begitu masalah listrik teratasi, produksi yang tadinya nol secara perlahan merangkak naik," tutur Tomi.

Efisiensi dan inovasi tersebut sempat mendongkrak produksi hingga menyentuh angka 2.000 BOPD pada Mei dan Agustus 2026—melampaui catatan produksi sebelum banjir melanda. 

Dukungan personel bantuan dari berbagai wilayah operasi Pertamina, seperti Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, dan Ramba, turut mempercepat pemulihan ini.

Atas kerja keras dan percepatan pemulihan produksi pascabencana tersebut, Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menganugerahkan penghargaan resmi kepada Pertamina EP Rantau Field pada April 2026.

Tomi menegaskan seluruh kegiatan pengeboran dan operasional di lapangan tetap mengedepankan aspek keselamatan kerja serta prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). 

Seluruh tenaga kerja di atas rig telah mengantongi sertifikasi keahlian serta lulus pelatihan keselamatan wajib, termasuk Corporate Life Saving Rules dan Pertamina Well Control.

 

Editor : Alim Kusuma