Wabup Blitar, R Santoso Diduga Tersangkut Kasus Tipu Gelap

Rahmat Santoso (Foto: IN/ist)

INFOnews.id | Surabaya - Kasus perbuatan tipu gelap dengan terdakwa Lily Yunita di Pengadilan Negeri (PN), Surabaya, terus berlanjut. Ada 17 saksi dihadirkan oleh jaksa. Mereka, menyebut di kasus itu ada keterlibatan Wakil Bupati Blitar Rahmat Santoso.

Dugaan keterlibatan Rahmat Santoso dalam perkara ini dijelaskan dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hari Basuki dari Kejaksaan Tinggi Jatim berkaitan dengan kerjasama pembebasan lahan 8,9 hektar milik Djabar di Osowilangon, Kecamatan Tandes, Surabaya.

Saat itu, Rahmat masih berprofesi sebagai advokat.  Di kesaksiannya, karyawan Rahmat Santoso, Joko Suwigyo membenarkan bahwa ada kerjasama pembebasan lahan tersebut. 

Kata dia, tanah tersebut masih dalam pengajuan permohonan eksekusi di PN Surabaya. Tanah itu juga sedang dalam penguasaan Rahmat dan lokasinya dijaga beberapa oknum dari salah satu organisasi masyarakat (Ormas). 

Saat JPU Heri Basuki menanyakan siapa yang mendatangkan Ormas tersebut, Joko menjawab, yang mendatangkan adalah Rahmat Santoso.  Joko juga menyebutkan Rahmat Santoso menerima dana pinjaman dari Lily Yunita melalui 2 rekening atas nama orang lain. 

Itu, bertepatan dengan pencalonan Rahmat Santoso sebagai Wakil Bupati Blitar.  Kemudian, saksi Rizki Tri Ardianto yang juga karyawan Rahmat Santoso menyebutkan hal serupa, yaitu menerima dana dari Lily Yunita.

Saat itu, ungkap Rizki, Rahmat Santoso meminjam namanya untuk menerima transfer uang.  Dia mengatakan, kantor Rahmat Santoso pun sering meminjam uang kepada Lily.

“Kantor saya pernah terima aliran dana dari Lily. Dana itu sifatnya pinjam meminjam. Ada kwitansinya, kurang lebih Rp10,5 miliar,” kata Rizki dalam persidangan virtual di PN Surabaya. 

Saat itu, Hakim Ketua Erentua Damanik kemudian menanyakan kepada Rizki apakah pinjam meminjam tersebut ada batas waktunya atau disertai dengan agunan? Riski menjawab tidak. 

“Tidak ada jatuh temponya, tapi hanya dijanjikan akan dibayar secepatnya. Tiba-tiba ada uang masuk ke rekening saya dari Ibu Lily Rp13,5 miliar untuk kantor,” kata Rizki. 

Di sidang saksi Rizky juga mengungkapkan bahwa pinjam meminjam tersebut ada bunganya. Selain itu, kantor hukum Rahmat Santoso and Partner juga sering hutang kepada Liliy.

“Tanggal 7 Juli, Rahmat Santoso pinjam uang Lily Yunita Rp500 juta,” katanya.  

Farida Hariani, jaksa penuntut dalam perkara ini menyoal keterangan Rizki. Ia mempertanyakan kenapa uang sebanyak itu masuk ke rekening pribadi saksi dan bukan ke rekening kantor hukum Rahmat Santoso and Partner atau ke Samudra and Co. 

Rizki mengatakan, ke dua usaha tersebut tidak mempunyai nomor rekening untuk menerima aliran dana dari Liliy. Rahmat, uang pinjaman tersebut sebagian yang sudah dikembalikan walaupun sekarang belum lunas, termasuk kepada pelapor, yaitu Lianawaty. 

Dalam persidangan, sering disebut nama Rahmat Santoso. Pelapor Lianawaty juga mengetahui kalau uang yang di hutang dari pelapor sebagian di diberikan ke Rahmat untuk mengurus pembebasan tanah milik Djabar di Tambak Osowilangun. 

Lianawati mengaku kalau dirinya pernah bertemu Rahmat Santoso di Mall Pakuwon Trade Center (PTC) Surabaya. Memang, saat pertemuan itu, dijelaskan kalau tanah itu lagi dalam pengurusan agak terhambat. Karena dijegal oleh Hadi Prayitno (Gehong). 

Saat itu, Lianawati langsung percaya. Karena, dia dijanjikan keuntung Rp 150 ribu per meter persegi. Pinjaman itu menggunakan bunga sebesar 1,5 persen.  Setiap kali Lily meminjam uang kepada Liana, selalu dicatat oleh karyawan Liana. Walau memang pinjaman itu diberikan awalnya tanpa ada jaminan.

Karena, terdakwa sudah dianggap seperti saudara oleh Lianawaty.  Di pertemuan ketiga, dijanjikan uang itu akan diberikan dalam kurun waktu 2,5 bulan. Sayang, sampai waktu yang ditentukan uang itu tidak juga dikembalikan. Karena, lahan yang diurus oleh Rahmat Santoso yang kini telah menjadi Wakil Bupati Blitar itu tidak kunjung selesai. 

Di persidangan sebelumnya Lianawaty menyebut, bahwa tanah menurut Liliy, sudah ada yang mau membeli pengusaha di Banjarmasin dengan harga Rp3,5 juta per meter.  

Lantaran tergiur akan mendapat banyak keuntungan, Lianawaty akhirnya bersedia membiayai pengurusan lahan itu hingga mengeluarkan uang hingga Rp68 miliar.

Pengurusan lahan di Osowilangon itu kemudian terjadi kerancuan, Lily sempat mengembalikan duit Lianawati sebesar Rp 16 miliar lebih. Sisa uang itulah yang kemudian diperkarakan oleh Lianawaty.  

Dana sebesar itu diklaim akan digunakan mengurus surat-surat tanah di Jakarta melalui perantara Rahmat Santoso. Liliy dan Lianawaty juga telah bersepakat membagi potensi keuntungan yang didapatkan.

"Nanti pembagian keuntungannya, Pak Rahmat Rp1 juta dan Lily Rp500 ribu. Dan saya dikasih bagian Lily Rp150 ribu per meternya,” kata Liana. 

Kerjasama pembebasan lahan itu  berakhir dramatis. Lily oleh Lianawati dilaporkan ke Polisi karena dinilai telah menipunya. Padahal, Liana Wati sebelumnya telah percaya pada Lily hingga bersepakat membiayai pengurusan lahan hingga Rp 48 miliar.

Dalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menjerat Lily dengan dakwaan pasal berlapis, diantaranya pasal 378 tentang penipuan sebagai dakwaan kesatu, kemudian pasal 372 KUHP untuk dakwaan kedua.  Selain itu, JPU juga mendakwa Lily Yunita Pasal 3 UU nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. (inf/rls/red)

infonews.id tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Berita Terkait